In #review #reviewfilm #untukAngeline

Anak Adalah Titip Bukan Objek Kekerasan: Untuk Angeline

Manusia memberikan batasan hidup yang nyaman dengan tolak ukur kemewahan harta. Banyak orang yang berlomba-lomba bagaimana caranya mereka bisa mengumpulkan pundi-pundi emas. Tapi saat pundi-pundi itu semakin menumpuk yang ada hanya rasa haus, semakin haus akan harta yang telah dimiliki. Semakin banyak yang di dapat semakin tidak cukup.

Untuk Angeline

Dari tolak ukur yang telah melekat pada alam bawah sadar masyarakat maka ada orangtua yang tega menjual anaknya. Berharap dengan menjual anaknya pada orang kaya maka anak itu akan mengalami hidup yang bahagia. Benarkah seperti itu yang terjadi?

Masih ingatkah kalian 1 tahun yang lalu saat media heboh memberitakan kasus kematian Angeline. Saat itu opini masyarakat diarahkan pada sang pembunuh seorang tukang kebun, dengan berbagai fakta yang diputar balikkan. Tapi, Polisi dengan cepat mengendus kejanggalan dari cerita yang begitu indahnya dipoles oleh pelaku. Saat setitik kebenaran terungkap masyarakat-termasuk aku-mengeluarkan sumpah serapah dan meminta keadilan terhadap Angeline atas apa yang dilakukan oleh Ibu tirinya.

agustina dwi jayanti
Tiket Untuk Angeline

Sudah 1 tahun berlalu kabar kejelasan atas kematian Angeline seolah-olah terkubur waktu. Memudar dengan adanya kasus-kasus baru yang terjadi di tanah air. Saat masyarakat mulai melupakannya maka sutradara Jito Banyu dengan sigap mengolahnya menjadi film epik yang digarap oleh rumah produksi Citra Visual Cinema.

Cerita diawali dengan adegan persalinan yang di alami Samidah (Kinaryoshi), persalinan berjalan lancar tapi karena kesehatan dia menurun seusai melahirkan jadi harus dirawat di Rumah Sakit sedikit lebih lama. Saat keadaan dia berangsur pulih datang satu masalah, sang suami Santo (Teuku Rifnu Wikana) tidak mendapatkan bayaran dari pekerjaanya dan uang tabungan mereka pun telah habis untuk keperluan sehari-hari. Tanpa adanya uang mereka tidak dapat menebus anaknya di Rumah Sakit.
Agustina Dwi Jayanti
Kopiers Semarang sehabis melihat film untuk Angeline, matanya sembab 

Di lain pihak ada sepasang suami istri kaya yang menginginkan mempunyai anak perempuan. Seakan tak ada pilihan lain maka Santo tega menjual anaknya pada John (Hans De Kraker) dan Terry (Roweina Umboh). Padahal saat itu Midah memberikan jalan keluar pada suaminya untuk menjual montor mereka untuk menebus anak mereka, tapi hal itu di tolak mentah-mentah karena montor itu adalah satunya-satunya alat untuk mencari uang.

Dengan berat hati Midah-pun menyetujui saran suaminya untuk menjual anaknya, harapan mereka anak itu hidup dengan bahagia berlimpah harta. Terry memberikan syarat kepada Midah dan Santo, mereka dapat menemui anak mereka setelah umur 18 tahun. Anak itu akhirnya di besarkan oleh Terry dan John, mereka memberikan nama Angeline (Naomi Ivo) pada anak itu.

5 tahun berlalu John menyanyangi Angeline dengan sepenuh hati, banyak cinta yang diberiakan John pada Angeline. Tak ada pembedaan cinta antara Anggeline dan anak laki-lakinya. Tapi cinta yang Angeline dapatkan hanya dari Ayah tirinya, Ibu tirinya berbanding terbalik dengan Ayah tirinya. Seakan menganggap Angeline adalah biang masalah dalam hidupnya.

Ketidak sukaan Ibu tiri dan kakak tirinya sedikit demi sedik semakin terlihat kasar dengan kekerasan fisik yang dilakukan sengaja tanpa sepengetahuan John. Dengan perlakuan itu Angeline hanya diam karena dia masih mempunyai cinta dari sang Ayah tiri. Kebencian kakak tirinya semakin membuncah saat sang Ayah hanya memperhatikan adiknya. Sang kakakpun dengan terang-terangan menabrakan sepedanya pada sang adik. Mengetahui itu dan terjadi di depan matanya, John sangat marah terhadap anak laki-lakinya.

Pertengkaran besar antara John dan Terry tak terelakkan. Ayah tiri Angeline akhirnya menghebuskan nafas terakhir karena jantungnya tidak dapat menerima kemarahan yang terlalu besar. Di saat yang sama, di teras rumah Angeline sedang bertanya kepada pembantunya “Kenapa tiba-tiba hujan lebat” lalu pembantu itu menjawab “Ini namanya hujan orang meninggal.”

4 tahunpun berlalu, dalam kurun waktu itu Angeline mendapatkan penyiksaan dari Ibu tirinya. Angeline diberikan makanan kucing, dipukul tanpa sebab, di suruh mengurus kucing-kucing Ibu tirinnya dan bahkan dia diperlakukan seperti pembantu. Tak ada kasih sayang yang dia rasakan, hanya rasa sakit yang dia dapatkan.

Seorang anak perempuan cerdas, ceria dan cantik tidak memiliki kasih sayang dari orangtua angkatnya. Ada ketakutan dan rasa sakit di balik topeng senyum yang selalu dia kenakan saat bertemu orang-orang. Tapi, rasa sakit itu akhirnya hilang selamanya. Kejadian bermula saat sang Ibu tiri mengetahui kucing kesayangannya mati. Angelina diseret ke dalam kamar mandi, disana dia mendapat penyiksaan untuk terakhir kalinya. “Aku lelah” alam mengiringi dengan hujan lebat saat Angelina pergi jauh.

Film ini berhasil membuat satu ruangan menangis. Lampu dihidupkan tanda film sudah selesai tapi tak ada yang beranjak langsung dari tempat duduknya. Mereka masih sibuk mengontrol perasaan mereka yang hanyut akan permainan artis dan suara musik mengharu biru.

Masih banyak Angeline di luar sana. Dengan himpitan keuangan banyak orangtua yang tega membuat anaknya menjadi Angeline yang lain. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang. Mulailah perhatikan orang-orang disekitarmu :) rasa sakit ini masih terasa.


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In #JanganTanyaKapanNikah Kapan Nikah KUA

Ibu dan Kartu Undangan

Berakhirnya bulan Ramadan akan datang bulan syawal yang artinya akan bertebaran banyak sekali info orang-orang yang akan menikah. Untuk sebagian orang kabar ini sangat menggembirakan tapi bagi seorang wanita yang sudah cukup umur dan belum menikah ini merupakan pukulan telak untuk kesekian kalinya.
Diambil dari google

“Eh si Tina belum nikah juga ya.”
“Emang si Tina punya pacar?”
“Dulu aku lihat dia bareng cowok..”
“loh, bukannya dia suka cewek..”

Begitulah kalo gosip berkembang tanpa ada remnya =_= jadi intinya saat ada yang bergembira maka akan ada yang tersakiti-aku tak tahu ini berasal dari mana-
Meme yang lagi hit

3 tahun yang lalu, Ibu kedatangan tamu yang mungkin buat Ibu itu hal ajaib, bahkan untuk akupun itu ajaib. Ada seorang Ibu-Ibu datang kerumah memberikan kartu undangan nikahan anaknya. Dia mengenalkan diri sebagai Ibu si X (aku lupa nama anak itu).

“Bu, mbak Tinanya kemana ya?” tanya Ibu x pada Ibuku.

“Lagi diluarkota, ada apa ya bu?” jawab Ibu singkat sambil memperhatikan tingkah si Ibu X.

“Oh, enak ya bu. Anak Ibu kerja sukses. Beda kayak anak saya bu. Anak saya baru bisa menikah padahal teman-teman dia udah pada nikah. Anak saya juga gak kerja.” Kata Ibu X yang nyerocos gak karuan.

“Mana undangannya bu? Ini sudah malam.” Sambil berdiri dan merasa gerah Ibu sudah berjalan didepan pintu. Yang artinya itu ngusir. Ibu si X cepat-cepat memberikan undangan itu pada Ibu lalu pamit kepada Ibu.

Hahaha..saat aku diberitahu ini ama Ibu aku Cuma bisa ketawa ngakak. Hal yang paling bikin aku terus ketawa mengingat saat Ibu cerita adalah saat Ibu bilang “La po ndeknen pikir anakku uwes nikah.” (“Apa dia pikir anakku udah nikah.”) hahahaha belum lagi saat ekspresi wajah ibu mengatakkan itu :D
Hahaha aku mau kalo ada laki kayak gini, cus KUA

Undangan yang aku pegang saat itu masih terlihat rapi, belum ada tanda pernah dibuka. Aku yakin seyakin-yakinnya Ibu sangat mangkel dengan kejadian itu. Lalu apa yang terjadi dengan kartu undangan itu? Aku hanya membuka dan melihat nama yang tertera siapa yang menikah. Karena aku tidakkenal ya udah undangan itu hanya aku biarkan disudut meja yang akhirnya berdebu.

Tiap aku ingat ini aku selalu senyum-senyum sendiri. Aku paling suka goda Ibu dengan cerita ini. Dan ini sangat manjur di saat seperti ini, banyak undangan yang bertebaran yang membuat aku harus ekstra sabar menghadapi Ibu yang tiba-tiba naik darah. Kalo Ibu tiba-tiba marah sehabis menerima undangan pernikahan aku selalu bilang “Untung Cuma undangan, gak pakai curhat.” Melumerlah suasanya kembali.


Emmm mau sampai kapan ya cara ini berhasil -_- ada yang mau carikan aku jodoh #ehhh

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In #kameraponsel Aku dan Kamera Ponsel

Selembar Kertas Glossy

Memori otak manusia memang tidak terbatas.Tetapi apakah kita bisa selalu mengingat semuanya dengan baik dalam jangka waktu lama? Tidak, kebanyakan kenangan itu akan disimpan dalam sebuah video, foto dan catatan tangan. Saat kita ingin mengenangnya kembali, tinggal kita keluarkan benda-benda yang mengingatkan kita dengan kenangan-kenangan itu.

Banyak hal yang terjadi dalam perjalan hidup seseorang. Semakin banyak bertemu sesuatu yang baru, semakin banyak pula kenangan-kenangan yang terbentuk. Tumpang tindih kenangan membuat kenangan yang lama semakin memudar dalam ingatan kita.
kamera roll
Kamera Roll
Adek no 1, hasil dari kamera roll
yang masih bayi itu foto adik ke-2, hasil dari kamera roll

Selama ini kenangan itu aku simpan dalam selembar kertas glossy. Dulu sebelum adanya kamera ponsel aku menggunakan kamera biasa yang menggunakan roll yang nantinya akan dicetak. Kamera manual memang tidak praktis, setelah kita jepret-jepret kita tidak bisa tahu hasilnya langsung seperti apa. Jadi kalo mau melihat hasilnya kita harus cuci roll itu dan menjadi foto cetak. Memang lebih boros, karena saat kita melihat hasilnya akan ada yang tidak kita suka. Walaupun boros sekalipun aku tetap suka, karena disana kenangan itu tersimpan dengan rapi.

Alm Bapak, Ibu dan adek no 1


Wajah orang-orang yang dulu ada dalam masa laluku, tak  mungkin bisa aku ingat dengan jelas sekarang ataupun nanti. Dari itu aku membutuhkan foto untuk mengingatnya kembali.  Kenangan yang akan aku gali suatu saat nanti. Tanpa adanya media penyimpanan itu pasti banyak orang yang akan melupakan satu persatu kenangan yang telah terukir.


Teman semasa kecil dulu yang sekarang udah pada nikah dan punya anak.
Sejak masuk SMA sudah ada kamera ponsel, tahun 2004 saat itu kamera ponsel hanya VGA yah tak begitu bagus tapi cukup bagus dimasa itu-jangan bandingkan dengan sekarang-. Aku dan Kamera Ponsel tak bisa dipisahkan. Setiap ada moment apapun pasti ingin saja jepret sana-sini :D
Masa-masa SMA memang benar adalah masa-masa paling menyenangkan, saat semua yang kita lakukan hanya senang-senang >_< memulai mengepakkan sayap dengan bermain kesana-kesini mencoba hal-hal baru. Bermain dan berjejaring itulah yang dilakukan saat SMA. Saat SMAku dulu bisa ke caffe sampai jam 8 malam saja sudah sangat wah loh..jangan bandingkan dengan sekarang yang sudah mengerti treveling sendiri =_=
teman SMA

Teman Organisasi Mahasiswa

Sahabat SMA yang sekarang sudah meraih mimpi masing-masing. Foto Model, Guru, Pegawai Bank, Pegawai Swasta, dan Dokter.

Teman SMP


SMP dan SMA aku masih menggunakan kamera manual, saat awal masuk kuliah barulah ada kamera yang 1MP itu juga udah wah pakai banget-ketahuan umurku-tapi sekarang sudah ada 13MP >_< ingin aku abadikan semua yang terjadi dengan Zenfon 2 Laser ZE550KL.
Aku dan Sahabat.


Zenfon 2 Laser ZE550KL mempunyai kamera ponsel yang dapat membuat keinginanku untuk mengabadikan setiap moment yang terjadi di kehidupanku lebih berwarna. Semua yang aku lihat bisa aku ceritakan dalam selembar kertas glossy. Hal yang menyenangkan ataupun hal-hal yang mengharu biru yang aku alami.
Teman-teman kuliah

Adanya kamera ponsel, membuat aku mempunyai banyak kenangan bersama almarhum Bapak. Saat aku kangen beliau aku tinggal melihat foto-foto yang aku punya. Begitu juga saat aku ingin mengenang masa-masa lampau, aku hanya membuka foto lama lalu mengenangnya untuk diriku sendiri. Tak terbayang deh kalo tidak adanya kamera. Bagaimana caranya aku bisa mengingat lagi masa-masa dulu. Mengingat lagi wajah-wajah itu.

Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com 

Read More

Share Tweet Pin It +1

26 Comments

ID Corners

Kumpulan Emak Bloger

Gandjel Rel

Blogger Perempuan

GenPI Jateng

Blogroll