Kamis, 13 Oktober 2016

Ngobrol Bareng Blogger Semarang Bersama Sakuku BCA

Rabu (31/8) blogger Semarang mengadakan acara “Ngobrol Bareng Semarang di Nesstcology”. Saat menuju kesana agak ribet sedikit secara belum tahu tempatnya. Dari jalan yang nanjak, macet karena bebarengan dengan jam pulang kerja, dan ditambah lagi kesasar. Lengkap sudah acara cari jalannya.
Sebelum acara foto-foto dulu. Photo by Mara


Dari pada muter-muter gak jelas akhirnya dikeluarkan jurus terakhir yang paling jitu. Google maps. Mbah googlepun mengarahkan aku dan temanku ke jalan yang benar. Sesampainya di sana rasa bete kita langsung menguap.

Disuguhi pemandangan dari dataran atas gimana bisa kita memper tahankan rasa bete. Setelah parkir motor langsung deh kita selfie. Dengan pemandangan yang indah dan gaya bangunan antara classic, minimalis, dan girly yang dicampur jadi satu. Membuat mata semakin termanjakan.

Saat memasuki pintu utama, samping kanan-kiri dinding terpasang bingkai-bingkai foto yang makin membuat kita ingin jepret terus. Cafe ini ada dua lantai, acara di adakan di lantai dua.  Viewnya sungguh bagus di lantai dua, bisa melihat pemandangan kota Semarang bawah. Selain view yang menajubkan para blogger di sediakan phothobooth. Jiwa narsis langsung kepanggil hehehe.

Setelah puas foto-foto dan cipika-cipiki kesesama blogger akhirnya master of ceremonies (MC) membuka acara Ngobrol Bareng Blogger Semarang. Obrolan yang diangkat adalah food enthusiast. Dimana orang yang doyan makan akan dibayar bukan malah membayar makanan. Bagi orang yang doyan makan seperti aku ini bila melihat ada makanan baru yang berseliweran di akun sosial media manapun, pasti membuat air liur ini menetes. Kalo hanya menetes saja sih tidak masalah, sayangnya selain air liur yang menetes masih diikuti perut yang keroncongan. Perut keroncongan berbanding lurus dengan kantong menjerit saat uang dikeluarkan.
Nuno Orange berbaju putih yang di tengah. Photo by Mara

Guest star Nuno Orange yang doyan makan tapi kantong selalu tebal ini, memberikan tips bagaimana caranya makan enak terus tanpa takut membengkaknya pengeluaran: badan yang jadi bengkak. Caranya adalah dengan menjadi food enthusiast. Menjadi food enthusiastpun bukan berarti asal jepret foto lalu memberikan kritik yang ngawur.

Bila ingin menjadikan food enthusiast sebagai pekerjaan kita harus mulai belajar tentang hal-hal teknik dalam makanan. Mulai bersahabat dengan bumbu-bumbu dapur. Jangan sampailah ya membedakan jahe sama kunyit aja gak tahu. Kata Nuno “Bila kita tidak tahu apa saja bahan yang ada dalam kandungan makanan itu, kita bisa bertanya pada kokinya. Jangan takut bertanya ya, karena itu adalah salah satu cara biar kita objektif dan jujur. Bila kita di undang dalam acara menyicipi makanan. Ternyata taste menurut kita kurang, jangan langsung ditulis di sosial media tapi bilang kepada chef atau pemilik restoran. Biasanya mereka akan lebih menghargai, karena mereka butuh masukan dari kita-kita yang doyan makan”.

Kalo kita tidak tahu apa saja bahan yang terkandung di dalamnya makanan seharga Rp 70.000 akan kita katakan mahal. Saat kita tahu apa saja sih bahan-bahan yang di pakai untuk menciptakan rasa selesat itu, baru deh bisa menilai makan itu patut dipertahankan atau dilepas (mantan kali)

Bukan hanya mengkritik saja yang dilakukan food enthusiast. Foto juga adalah nilai plus. Bayangin aja deh kita udah bilang itu makan enaknya selangit tapi gambar yang diperlihatkan tidak menarik mata. Apa ada orang yang percaya review kita?  Mulailah memotret makannan apapun un tuk belajar.

“Untuk mendapatkan gambar yang bagus tidak Cuma sekali atau dua kali memotretnya. Seringnya pas mendapatkan foto bagus makanan panas jadi dingin. Kalo di Jakarta ada yang bawa tangga lipat kecil. Jadi pas mau memfoto dari atas akan keliatan bagus”. Jelas Nuno disaat sela-sela tanya jawab.

Ada pertanyaan peserta yang menyenangkan. Bagaimana caranya kita para food enthusiast bisa diundang untuk mereview tempat makan baru. Jawabanya adalah kita harus buktikan kalo hasil review kita bisa berbanding lurus dengan apa yang dikeluarkan oleh para endorse, dan kita harus memperluas networking ke komunitas icip-icip.

Bila review kita mengena di hati teman-teman kita, pasti deh kita akan diminta menemani mereka kesana. Tadinya saat mereview belum ada menu baru, pas kesana ada menu baru. Mau gak mau harus mencoba makanan itu. Sialnya tidak membawa uang lagi. Mau pakai kartu ATM eh kartunya di dompet satunya:cewek pasti punya dompet lebih dari dua. Kalang kabut? Tenang sekang BCA ada Sakuku BCA.
Mr. Laurent

Mr. Laurent menjelaskan sekilas apa itu Sakuku BCA. Sakuku BCA adalah alat transaksi pembayaran melalui online. Jadi kita tinggal buka aplikasi lalu masukan nominal yang harus kita bayar. Nah gimana kalo jajan rame-rame lalu ada yang bilang “Kamu dulu deh yang bayar, nanti aku ganti”.  Manfaatin aja Sakuku plus split bill, gunanya untuk membagi pengeluaran biaya siapa aja. jadi teman gak ada alasan lagi saat ditagih bilang gak ada uang atau lupa. Bukan masalah pelit tapi kalo tiap hari kayak gitu kan sakit.

Jangan samapi habis makan kita menyesal ya. Makan gendut gak makan lemes. Udah deh yang penting makan, besok diet. Besok kalo gak lupa diet.


7 komentar: