Selasa, 26 Juli 2016

Anak Adalah Titip Bukan Objek Kekerasan: Untuk Angeline

Manusia memberikan batasan hidup yang nyaman dengan tolak ukur kemewahan harta. Banyak orang yang berlomba-lomba bagaimana caranya mereka bisa mengumpulkan pundi-pundi emas. Tapi saat pundi-pundi itu semakin menumpuk yang ada hanya rasa haus, semakin haus akan harta yang telah dimiliki. Semakin banyak yang di dapat semakin tidak cukup.

Untuk Angeline

Dari tolak ukur yang telah melekat pada alam bawah sadar masyarakat maka ada orangtua yang tega menjual anaknya. Berharap dengan menjual anaknya pada orang kaya maka anak itu akan mengalami hidup yang bahagia. Benarkah seperti itu yang terjadi?

Masih ingatkah kalian 1 tahun yang lalu saat media heboh memberitakan kasus kematian Angeline. Saat itu opini masyarakat diarahkan pada sang pembunuh seorang tukang kebun, dengan berbagai fakta yang diputar balikkan. Tapi, Polisi dengan cepat mengendus kejanggalan dari cerita yang begitu indahnya dipoles oleh pelaku. Saat setitik kebenaran terungkap masyarakat-termasuk aku-mengeluarkan sumpah serapah dan meminta keadilan terhadap Angeline atas apa yang dilakukan oleh Ibu tirinya.

agustina dwi jayanti
Tiket Untuk Angeline

Sudah 1 tahun berlalu kabar kejelasan atas kematian Angeline seolah-olah terkubur waktu. Memudar dengan adanya kasus-kasus baru yang terjadi di tanah air. Saat masyarakat mulai melupakannya maka sutradara Jito Banyu dengan sigap mengolahnya menjadi film epik yang digarap oleh rumah produksi Citra Visual Cinema.

Cerita diawali dengan adegan persalinan yang di alami Samidah (Kinaryoshi), persalinan berjalan lancar tapi karena kesehatan dia menurun seusai melahirkan jadi harus dirawat di Rumah Sakit sedikit lebih lama. Saat keadaan dia berangsur pulih datang satu masalah, sang suami Santo (Teuku Rifnu Wikana) tidak mendapatkan bayaran dari pekerjaanya dan uang tabungan mereka pun telah habis untuk keperluan sehari-hari. Tanpa adanya uang mereka tidak dapat menebus anaknya di Rumah Sakit.
Agustina Dwi Jayanti
Kopiers Semarang sehabis melihat film untuk Angeline, matanya sembab 

Di lain pihak ada sepasang suami istri kaya yang menginginkan mempunyai anak perempuan. Seakan tak ada pilihan lain maka Santo tega menjual anaknya pada John (Hans De Kraker) dan Terry (Roweina Umboh). Padahal saat itu Midah memberikan jalan keluar pada suaminya untuk menjual montor mereka untuk menebus anak mereka, tapi hal itu di tolak mentah-mentah karena montor itu adalah satunya-satunya alat untuk mencari uang.

Dengan berat hati Midah-pun menyetujui saran suaminya untuk menjual anaknya, harapan mereka anak itu hidup dengan bahagia berlimpah harta. Terry memberikan syarat kepada Midah dan Santo, mereka dapat menemui anak mereka setelah umur 18 tahun. Anak itu akhirnya di besarkan oleh Terry dan John, mereka memberikan nama Angeline (Naomi Ivo) pada anak itu.

5 tahun berlalu John menyanyangi Angeline dengan sepenuh hati, banyak cinta yang diberiakan John pada Angeline. Tak ada pembedaan cinta antara Anggeline dan anak laki-lakinya. Tapi cinta yang Angeline dapatkan hanya dari Ayah tirinya, Ibu tirinya berbanding terbalik dengan Ayah tirinya. Seakan menganggap Angeline adalah biang masalah dalam hidupnya.

Ketidak sukaan Ibu tiri dan kakak tirinya sedikit demi sedik semakin terlihat kasar dengan kekerasan fisik yang dilakukan sengaja tanpa sepengetahuan John. Dengan perlakuan itu Angeline hanya diam karena dia masih mempunyai cinta dari sang Ayah tiri. Kebencian kakak tirinya semakin membuncah saat sang Ayah hanya memperhatikan adiknya. Sang kakakpun dengan terang-terangan menabrakan sepedanya pada sang adik. Mengetahui itu dan terjadi di depan matanya, John sangat marah terhadap anak laki-lakinya.

Pertengkaran besar antara John dan Terry tak terelakkan. Ayah tiri Angeline akhirnya menghebuskan nafas terakhir karena jantungnya tidak dapat menerima kemarahan yang terlalu besar. Di saat yang sama, di teras rumah Angeline sedang bertanya kepada pembantunya “Kenapa tiba-tiba hujan lebat” lalu pembantu itu menjawab “Ini namanya hujan orang meninggal.”

4 tahunpun berlalu, dalam kurun waktu itu Angeline mendapatkan penyiksaan dari Ibu tirinya. Angeline diberikan makanan kucing, dipukul tanpa sebab, di suruh mengurus kucing-kucing Ibu tirinnya dan bahkan dia diperlakukan seperti pembantu. Tak ada kasih sayang yang dia rasakan, hanya rasa sakit yang dia dapatkan.

Seorang anak perempuan cerdas, ceria dan cantik tidak memiliki kasih sayang dari orangtua angkatnya. Ada ketakutan dan rasa sakit di balik topeng senyum yang selalu dia kenakan saat bertemu orang-orang. Tapi, rasa sakit itu akhirnya hilang selamanya. Kejadian bermula saat sang Ibu tiri mengetahui kucing kesayangannya mati. Angelina diseret ke dalam kamar mandi, disana dia mendapat penyiksaan untuk terakhir kalinya. “Aku lelah” alam mengiringi dengan hujan lebat saat Angelina pergi jauh.

Film ini berhasil membuat satu ruangan menangis. Lampu dihidupkan tanda film sudah selesai tapi tak ada yang beranjak langsung dari tempat duduknya. Mereka masih sibuk mengontrol perasaan mereka yang hanyut akan permainan artis dan suara musik mengharu biru.

Masih banyak Angeline di luar sana. Dengan himpitan keuangan banyak orangtua yang tega membuat anaknya menjadi Angeline yang lain. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang. Mulailah perhatikan orang-orang disekitarmu :) rasa sakit ini masih terasa.


2 komentar:

  1. Suka bnget dg statment ini : uang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang.

    BalasHapus
  2. Suka bnget dg statment ini : uang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang.

    BalasHapus