Sabtu, 24 Mei 2014

Secarik Surat Untuk Ayah.

  
Apa yang akan kalian lakukan saat kalian dilarang pulang malam?
Saat kalian tidak diijinkan jalan-jalan keluar kota?
Saat kalian hanya diberi uang jajan secukupnya?
Kalian marah?
Kalo aku, ya aku marah. Aku pernah mengalami itu, percayalah pemberontakan kalian akan berujung penyesalan.

6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA dikota yang sama. Saat lulus SMA aku berfikir akan terbang bebas menjelajahi Negri Sakura dengan cara mengambil beasiswa dari pemerintah. Pertengahan semester sampai akhir kelas 3 tidak pernah rata-rata dibawah 7. Itu semua kulakukan demi bisa memenuhi syarat awal  beasiswa. Kelulusan SMA seakan-akan itu adalah jalan yang akan membawaku pada impianku, tapi semua pupus saat ada titah dari Ayah "Kurang opo neng omah sampai emeh neng Luar Negri." (Kurang apa dirumah sampai mau keluar negri)

Jujur saat itu aku sangat marah, kenapa aku harus dilarang. Bukankah selama ini aku jadi anak manis yang memberikan kebanggaan nilai dan selalu diterima sekolah negeri yang dinginkan Ayah?. Lalu kenapa aku masih saja dilarang? Jiba pembrontakku waktu itu sangat menggebu. Aku selalu berfikir aku sudah besar mampu memilih jalanku.

Dampak dari kemarahan itu aku mulai malas menentukan tempat kulliah. Ada seorang sahabat yang memintaku kulliah di tempat yang sama dengannya. Aku hanya mengikutinya dengan tak ada gairah untuk memulai atau meng akhiri. Dari sikap bodohku ini tentu saja berdampak pada absensi kehadiran. Sampai akhirnya terkena DO.

Apa aku menyesal? ya. Bukan karena DO tapi aku menyesal kenapa aku tetap tak semanis waktu masih kecil dulu. Mengikuti apa semua kata Ayah. Andai aku tahu waktu yang di berikan Tuhan untuk kebersamaan kita hanya sedikit. Sungguh aku menyesal.

Engkau memberi apa yang aku mau tapi apa balasanku padamu. Aku hanya membuatmu semakin memendam rasa sakit yang tak pernah engkau perlihatkan atas kelakuanku sampai ajal menjenjemputmu.

Sungguh andai aku tahu aku pasti jadi apa yang kamu mau. Tapi itu tak mungkin. Itu adalah jalan yang di berikan sang pencipta untukmu Ayah.

Ayah aku rindu engkau lindungi.
Ayah aku rindu hangatnya rumah saat ada dirimu.
Ayah aku rapuh aku butuh kekuatanmu.
Ayah aku butuh tanganmu untuk menggenggam tanganku saat terjatuh. 
Ayah mana telapak tanganmu yang menyeka air mataku menjadi senyuman.

Maafkan aku Ayah, sungguh aku menyesal. Ayah saat aku menulis ini aku sedang berusaha seperti engkau. Berusaha sekuat engkau. Berusaha melebihi engkau. Ayah hanya satu permintaanku yang terakhir untukmu, aku ingin kita terus bersama di Dunia yang abadi nanti.


Untukmu kekasih abadiku Ayah.



Watashi wa otōsan ga daisukidesu.

(Diperbaharui 28-04-2016)

10 komentar:

  1. Uhuhu jd teringat bapak saya abis baca ini

    BalasHapus
  2. Bapakku itu sebenarnya enggak galak tapi tegas, enggak ngebentak kalau enggak bener-bener marah
    Sama, aku dulu enggak boleh pulang malam, enggak boleh jalan-jalan keluar kota...

    BalasHapus